Entri Populer

Sabtu, 10 Maret 2012

RPP K3LH PEMASARAN


1




RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

STANDAR KOMPETENSI      : Menerapkan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup
(K3LH)
KOMPETENSI DASAR : Mendeskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3





DISUSUN OLEH :

M. TAUFIK HIDAYAT, SE
NIP. 1978 07 18 2009 01 1 011





PEMERINTAH KABUPATEN BLITAR
DINAS PENDIDIKAN DAERAH
SMKN 1 KADEMANGAN
Jl. Sadewo No 1, Kademangan, Blitar Telp. 0342 815 208


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Mata Pelajaran
:
Dasar Kompetensi Keahlian
Kelas/Semester
:
X/1
Pertemuan Ke
:
1-8
Alokasi Waktu
:

Standar Kompetensi
:
Menerapkan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH)
Kode Satuan Kompetensi
:

Kompetensi Dasar
:
Mendeskripsikan keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
Indikator
:
Siswa dapat membedakan pengertian keamanan, keselamatan, dan kesehatan kerja.


Siswa dapat menguraikan unsur-unsur keamanan, keselamatan, dan kesehatan kerja.


Siswa dapat menjelaskan syarat-syarat lingkungan kerja.


Siswa dapat mengidentifikasi tujuan keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja.


Siswa dapat mengidentifikasi peraturan pemerintah tentang K3


Siswa dapat mengidentifikasi prosedur kerja yang memenuhi standar K3/SOP/POS


Siswa dapat menjelaskan prosedur pencegahan K3


Siswa dapat menjelaskan istilah-istilah yang berkaitan dengan K3
I.      Tujuan  Pembelajaran
:

Pertemuan I
:
membedakan pengertian keamanan, keselamatan, dan kesehatan kerja
Pertemuan II
:
menguraikan unsur-unsur keamanan, keselamatan, dan kesehatan kerja
Pertemuan III
:
menjelaskan syarat-syarat lingkungan kerja
Pertemuan IV
:
mengidentifikasi tujuan keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja
Pertemuan V
:
mengidentifikasi peraturan pemerintah tentang K3
Pertemuan VI
:
mengidentifikasi prosedur kerja yang memenuhi standar K3/SOP/POS
Pertemuan VII
:
menjelaskan prosedur pencegahan K3
Pertemuan VIII
:
menjelaskan istilah-istilah yang berkaitan dengan K3
Pertemuan IX
:
evaluasi
II.     Metode Pembelajaran :
:
1. Ceramah
2. Pemberian Tugas
3.  Presentasi
4. Tanya jawab
III.  Langkah-Langkah Pembelajaran
:

Pertemuan I
Fase Pembelajaran
Kegiatan
Metode
Sumber
Waktu
Guru
Siswa
Kegiatan Pembukaan

Salam, perkenalan,
Creativity kuis
Mendengar, brain storming
Ceramah

10’
Kegiatan Inti
Menjelaskan materi etika bisnis dan prinsip-prinsip bisnis
Ice breaking
Melihat mendengar, mencatat, Diskusi tak terstruktur
Ceramah, curah pendapat/brainstorming

75’

Kegiatan Penutup

Mengarahkan kesimpulan siswa.
Memberikan tugas mencari kliping praktek bisnis yang ber etika atau praktek bisnis yang tak ber etika dikumpulkan 3 minggu lagi.
Siswa diminta menyimpulkan hasil pembelajaran
Tanya jawab, brain storming

5’
Pertemuan II
Fase Pembelajaran
Kegiatan
Metode
Sumber
Waktu
Guru
Siswa
Kegiatan Pembukaan

Salam, absensi, jurnal
Mengulang/retensi pembelajaran yang lalu
Mengemukakan pendapat di depan kelas atau menulis di papan atau lisan
Brainstorming

5’

Kegiatan Inti
Melanjutkan kembali penjelasan pembelajaran minggu lalu
Diselingi dengan ice breaking
Melihat, mendengar, mencatat, bertanya
Ceramah


75’
Kegiatan Penutup

Mengarahkan hasil kesimpulan
Siswa menyimpulkan kembali hasil pembelajaran
Tanya jawab

5’
Pertemuan III
Fase Pembelajaran
Kegiatan
Metode
Sumber
Waktu
Guru
Siswa
Kegiatan Pembukaan

Salam, absensi, jurnal
Mengulang/retensi pembelajran yang lalu
Mengemukakan pendapat di depan kelas atau menulis di papan atau lisan
Ceramah

5’

Kegiatan Inti
Melanjutkan kembali penjelasan pembelajaran minggu lalu
Diselingi dengan ice breaking
Serta contoh2 aplikasi dilingkungan sekolah
Melihat, mendengar, mencatat, bertanya
Ceramah





75’






Kegiatan Penutup

Mengarahkan hasil kesimpulan
Menagih tugas kliping
Siswa menyimpulkan kembali hasil pembelajaran
Tanya jawab



5’



5’
Pertemuan IV
Fase Pembelajaran
Kegiatan
Metode
Sumber
Waktu
Guru
Siswa
Kegiatan Pembukaan

Salam, absensi, jurnal
Mengulang/retensi pembelajaran yang lalu
Mengemukakan pendapat di depan kelas atau menulis di papan atau lisan
Ceramah

5’

5’
Kegiatan Inti
Mengarahkan diskusi presentasi hasil kliping siswa
Presentasi  hasil kliping, mendiskusikan hasil kliping dan presentasinya
Presentasi dan diskusi


45’
Kegiatan Penutup

Merekap hasil presentasi dan diskusi

Tanya jawab

5’
Pertemuan V
Fase Pembelajaran
Kegiatan
Metode
Sumber
Waktu
Guru
Siswa
Kegiatan Pembukaan

Salam, perkenalan,
Creativity kuis
Mendengar, brain storming
Ceramah

10’
Kegiatan Inti
Menjelaskan materi etika bisnis dan prinsip-prinsip bisnis
Ice breaking
Melihat mendengar, mencatat, Diskusi tak terstruktur
Ceramah, curah pendapat/brainstorming

75’

Kegiatan Penutup

Mengarahkan kesimpulan siswa.
Memberikan tugas mencari kliping praktek bisnis yang ber etika atau praktek bisnis yang tak ber etika dikumpulkan 3 minggu lagi.
Siswa diminta menyimpulkan hasil pembelajaran
Tanya jawab, brain storming

5’
Pertemuan VI
Fase Pembelajaran
Kegiatan
Metode
Sumber
Waktu
Guru
Siswa
Kegiatan Pembukaan

Salam, absensi, jurnal
Mengulang/retensi pembelajaran yang lalu
Mengemukakan pendapat di depan kelas atau menulis di papan atau lisan
Brainstorming

5’

Kegiatan Inti
Melanjutkan kembali penjelasan pembelajaran minggu lalu
Diselingi dengan ice breaking
Melihat, mendengar, mencatat, bertanya
Ceramah


75’
Kegiatan Penutup

Mengarahkan hasil kesimpulan
Siswa menyimpulkan kembali hasil pembelajaran
Tanya jawab

5’
Pertemuan VII
Fase Pembelajaran
Kegiatan
Metode
Sumber
Waktu
Guru
Siswa
Kegiatan Pembukaan

Salam, absensi, jurnal
Mengulang/retensi pembelajran yang lalu
Mengemukakan pendapat di depan kelas atau menulis di papan atau lisan
Ceramah

5’

Kegiatan Inti
Melanjutkan kembali penjelasan pembelajaran minggu lalu
Diselingi dengan ice breaking
Serta contoh2 aplikasi dilingkungan sekolah
Melihat, mendengar, mencatat, bertanya
Ceramah





75’






Kegiatan Penutup

Mengarahkan hasil kesimpulan
Menagih tugas kliping
Siswa menyimpulkan kembali hasil pembelajaran
Tanya jawab



5’



5’
Pertemuan VIII
Fase Pembelajaran
Kegiatan
Metode
Sumber
Waktu
Guru
Siswa
Kegiatan Pembukaan

Salam, absensi, jurnal
Mengulang/retensi pembelajaran yang lalu
Mengemukakan pendapat di depan kelas atau menulis di papan atau lisan
Ceramah

5’

5’
Kegiatan Inti
Mengarahkan diskusi presentasi hasil kliping siswa
Presentasi  hasil kliping, mendiskusikan hasil kliping dan presentasinya
Presentasi dan diskusi


45’
Kegiatan Penutup

Merekap hasil presentasi dan diskusi

Tanya jawab

5’

IV.      Alat/Bahan/Sumber Belajar
:

a.  Alat                                                  : Komputer/Laptop/LCD
b.  Sumber Belajar                          : 1. Dra. Nita Kristyaningrum, LKS K3LH Citra Pustaka Mandiri, Surakarta 
                                                                  2. Devi Novitasari, BSE Penjualan Jilid 1 bab 1

                 Blitar, 13 Juli 2010
Mengetahui
Kepala SMK Negeri 1 Kademangan




Ir. H. Eddy Trijana Sudani, MMA
                   NIP.  19590930 199003 1 005
Guru Mata pelajaran/Kompetensi





M. Taufik Hidayat, SE
                 NIP. 1978 07 18 2009 01 1 011



K3 atau Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan (preventif) timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian.
Tujuan dari dibuatnya sistem ini adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja. Namun patut disayangkan tidak semua perusahaan memahami arti pentingnya K3 dan bagaimana mengimplementasikannya dalam lingkungan perusahaan.
�� Tujuan Kesehatan dan Keselamatan Kerja K3
Tujuan Pemerintah membuat aturan K3 dapat dilihat pada Pasal 3 Ayat 1 UU
No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, yaitu:
– mencegah dan mengurangi kecelakaan;
– mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran;
– mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;
– memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya;
– memberikan pertolongan pada kecelakaan;
– memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja;
– mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi,suara dan getaran;
– mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik, maupun psikhis, peracunan, infeksi dan penularan;
– memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai;
– menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik;
– menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup;
– memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;
– memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya;
– mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman, atau batang;
– mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;
– mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar-muat, perlakuan,dan penyimpanan barang;
– mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya;
– menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang berbahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.
Dari tujuan pemerintah tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa dibuatnya aturan penyelenggaraan K3 pada hakekatnya adalah pembuatan syarat-syarat keselamatan kerja dalam perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan, pemakaian, penggunaan, pemeliharaan peralatan dalam bekerja serta pengaturan dalam penyimpanan bahan, barang, produk tehnis dan aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan. Sehingga potensi bahaya kecelakaan kerja tersebut dapat dieliminir
�� Dasar HukumPenerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam
perusahaan
Penerapan K3 itu didalam perusahaan bersumber pada hukum sebagai berikut:
�� UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
�� UU No. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
�� PP No. 14 tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
�� Keppres No. 22 tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul karena Hubungan Kerja.
�� Permenaker No. Per-05/MEN/1993 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan, dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
Sebagai perwujudan program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang ditujukan sebagai program perlindungan khusus bagi tenaga kerja, maka dibuatlah Jaminan Sosial Tenaga Kerja, yaitu suatu program perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua dan meninggal. Program jamsostek lahir dan diadakan dan selanjutnya dilegitimasi dalam UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek sebagai pengakuan atas setiap tenaga kerja berhak atas jaminan sosial tenaga kerja. Sedangkan ruang lingkup program jaminan sosial tenaga kerja dalam Undang-undang ini meliputi:
�� Jaminan Kecelakaan Kerja;
�� Jaminan Kematian;
�� Jaminan Hari Tua;
�� Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.
Program Jamsostek sebagai pengejawantahan dari program K3 diwajibkan berdasarkan Pasal 2 Ayat 3 PP No. 14 Tahun 1993 bagi setiap perusahaan, yang memiliki kriteria sebagai berikut:
�� Perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja 10 orang atau lebih;
�� Perusahaan yang membayar upah paling sedikit Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) per bulan (walaupun kenyataannya tenaga kerjanya kurang dari 10 orang).
Adapun akibat yang muncul atas kecelakaan kerja atau penyakit yang ditimbulkan oleh hubungan kerja dapat berupa:
�� tidak mampu bekerja untuk sementara
�� cacat sebagian untuk selama-lamanya
�� cacat total untuk selama-lamanya
�� cacat kekurangan fungsi organ
�� meninggal dunia.
Akibat lain yang berdampak pada pengusaha karena pekerjanya terjangkit penyakit-penyakit yang telah disebutkan diatas, dapat mempengaruhi kinerja dan produktivitas perusahaan, sehingga keuntungan perusahaan menjadi berkurang. Ini adalah bukti adanya korelasi perlindungan K3 dengan efektivitas dan efisiensi perusahaan.
�� Keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja sesuai K3 di tempat kerja
Pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja tidak terlepas dari kualitas SDM yang akan berperan menjadi pengelola dan pelaksana kegiatan-kegiatan K3 yang dilaksanakan perusahaan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya peningkatan dan pengembangan pengetahuan, kemampuan serta keterampilan SDM dalam mengelola K3. Selain itu perusahaan wajib mematuhi peraturan dan perundangan di bidang K3 yang harus disosialisasikan kepada
seluruh karyawan dalam hal meningkatkan kesadaran dan pengetahuannya tentang K3. Sehingga dapat diterapkan dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Salah satu upaya yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan memberikan pelatihan tentang K3 bagi seluruh karyawan.
Pelatihan dapat meningkatkan kepedulian terhadap aspek K3 bagi masing-masing karyawan serta mengimplementasikannya dalam menjalankan tugas di tempat kerja masing-masing.
A. Prosedur Keamanan keselamatan dan kesehatan kerja
Banyak perusahaan masih menyepelekan prosedur Keamanan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Padahal, posisi tubuh (ergonomi) dan letak alat bantu kerja dikantor begitu erat kaitannya dengan produktivitas kerja. Jika mendengar kata ini Keamanan, kesehatan dan Keselamatan Kerja biasanya yang langsung terbayang adalah alat lindung diri dalam proyek seperti: helm, sepatu
proyek, sarung tangan, tali pengaman, atau baju tahan api. Ternyata, Keamanan, kesehatan dan Keselamatan Kerja. bukan sekadar soal keselamatan kerja, tetapi juga kesehatan kerja.
Prosedur keselamatan kerja sebetulnya harus diterapkan di seluruh perusahaan, tanpa memandang jenis industri. Perusahaan yang berisiko rendah pun harus ikut standar Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja khususnya office safety atau Keamanan, kesehatan dan Keselamatan Kerja di kantor. Terjadinya kecelakaan kerja tentu saja menjadikan masalah yang besar bagi kelangsungan sebuah perusahaan. Kerugian yang diderita tidak hanya berupa
kerugian materi yang cukup besar namun lebih dari itu adalah timbulnya korban jiwa yang tidak sedikit jumlahnya. Kehilangan sumber daya manusia ini merupakan kerugian yang sangat besar karena manusia adalah satu-satunya sumber daya yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apapun. Kerugian yang langsung yang nampak dari timbulnya kecelakaan kerja adalah biaya pengobatan dan kompensasi kecelakaan. Sedangkan biaya tak langsung yang tidak nampak ialah kerusakan alat-alat produksi, penataan manajemen keselamatan yang lebih baik, penghentian alat produksi, dan hilangnya waktu kerja.
B. Menghadapi situasi darurat keamanan,keselamatan,dan kesehatan kerja.
Orang atau pekerja sering melakukan lingkungan yang tidak aman terutama disebabkan oleh: karena pegawai tersebut merasa telah ahli dibidangnya dan belum pernah mengalami kecelakaan, walaupun melakukan unsafe behavior. Ia berpendapat bahwa bila selama ini bekerja dengan cara ini (unsafe) tidak terjadi apa-apa, mengapa harus berubah. Lingkungan yang tidak aman juga sering dipicu oleh adanya pengawas atau manager yang tidak peduli dengan safety. Para manager ini secara langsung atau tidak langsung memotivasi para pekerja untuk mengambil jalan pintas, mengabaikan bahwa perilakunya berbahaya demi kepentingan produksi.
1 Upaya yang biasa dilakukan untuk mengurangi lingkungan yang tidak
aman / berbahaya
Lingkungan yang tidak aman dapat diminimalisasi dengan melakukan beberapa cara. Yaitu:
�� Menghilangkan bahaya ditempat kerja dengan merekayasa faktor bahaya atau mengenalkan kontrol fi sik. Cara ini dilakukan untuk mengurangi potensi terjadinya lingkungan yang tidak aman, namun tidak selalu berhasil karena pegawai mempunyai kapasitas untuk berprilaku tidak aman dan mengatasi pengawasan yang ada.
�� Mengubah sikap pegawai agar lebih peduli dengan keselamatan dirinya. Cara ini didasarkan atas asumsi bahwa perubahan sikap akan mengubah perilaku. Berbagai upaya yang dapat dilakukan adalah melalui kampanye dan safety training (latihan keselamatan kerja). Pendekatan ini tidak selalu berhasil karena ternyata perubahan sikap tidak diikuti dengan perubahan perilaku. Sikap sering merupakan apa yang seharusnya dilakukan bukan apa yang sebenarnya dilakukan.
Dengan memberikan punishment atau hukuman terhadap pelaku yang menyebabkan terbentuknya lingkungan yang tidak aman. Cara ini tidak selalu berhasil karena pemberian punishment terhadap perilaku tidak aman harus dilakukan secara tetap atau konsisten dan segera setelah muncul, hal inilah yang sulit dilakukan karena tidak semua lingkungan yang tidak aman dapat terpantau secara langsung. Dengan memberikan reward atau penghargaan terhadap mereka yang dapat menciptakan safety behavior (lingkungan yang aman). Cara ini sulit dilakukan karena reward minimal harus setara dengan apa yang didapat dari perilaku tidak aman
2. Memilih dan menyiapkan peralatan sesuai dengan prosedur Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Tidak ada satu organisasipun yang dalam kegiatan untuk mencapai tujuannya tidak menggunakan perlalatan kantor. Dalam hal ini perlalatan kantor berfungsi untuk membantu pelaksanaan pekerjaan kantor. Walaupun organisasi memiliki sumber daya manusia yang berkualitas tinggi namun tanpa adanya sumber daya lainnya, seperti alat atau material lainnya, tidak mungkin
organisasi tersebut dapat mencapai tujuannya secara optimal. Pada umumnya peralatan kantor yang ada dan dioperasikan dalam suatu organisasi, perusahaan atau kantor bermacam-macam, bentuknya antara lain berupa alat tulis kantor, perabot kantor dan mesin-mesin kantor. Pemakaian
teknologi yang modern di lingkungan perkantoran baik untuk penanganan administrasi, keuangan dan bidang pekerjaan lainnya bertujuan meningkatkan kinerja perusahaan dan menambah daya saing dalam memasuki era global dan memenangkan kompetisi atau persaingan antar perusahaan yang semakinketat. Dalam memilih peralatan kantor untuk membantu pelaksanaan pekerjaan
tidak boleh terpaku pada pemilihan alat yang berteknplogi tinggi saja tetapi juga harus memperhatikan keamanan , kesehatan dan keselamatan kerja bagi pegawai yang menggunakannya. Apabila saat mengetik seorang karyawan harus mendongak untuk menatap
monitor, itu berarti perusahaan belum memperhatikan keamanan, kesehatan dan keselamatan kerja Jika karyawan sering mengeluh suhu udara kantor terlalu dingin atau panas, atau jika di bawah meja karyawan banyak terjulur kabel listrik, internet, dan telepon, itu berarti perusahaan masih mengabaikan Keamanan, kesehatan dan Keselamatan Kerja. Apabila kantor tak memiliki
tangga darurat dan pemadam kebakaran, itu sama halnya perusahaanmempertaruhkan nyawa karyawan.
Inilah “Musuh” yang banyak dijumpai di Kantor yang dapat menyebabkan lingkungan kerja tidak aman:
�� Posisi tubuh (ergonomi) yang salah ketika melakukan pekerjaan.
�� Gerakan berulang (repetitive motion).
�� Pencahayaan yang terlalu terang/gelap.
�� Mouse dan keyboard yang sulit dijangkau tangan.
�� Kabel listrik, telepon, internet yang terjuntai ke lantai.
�� AC yang terlalu dingin atau malah tidak berfungsi (panas).
�� Alat-alat listrik yang tidak berfungsi sempurna.
�� Furnitur kantor yang menyusahkan pekerjaan
3. Menjaga daerah kerja sesuai dengan norma higienis, keamanan serta peraturan mengenai lingkungan
Yang dimaksud dengan daerah kerja adalah area atau ruangan kantor tempat pegawai atau karyawan kantor melakukan aktivitas pekerjaan. Seperti diketahui bersama bahwa daerah perkantoran khususnya di Jakarta berada di gedung bertingkat yang luasnya kadangkala terbatas seperti kotak kecil. Belum lagi rasio atau perbandingan luas ruang dengan jumlah pegawai yang
menempatinya menjadi masalah tersendiri.
4. Memelihara dan menggunakan peralatan sesuai dengan persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja
Setiap jenis pekerjaan senantiasa terkait dengan penggunaan alat-alat, bahan-bahan serta kondisi tertentu. Penggunaan alat-alat kerja haruslah selalu memperhatikan beberapa hal, antara lain:
�� Penggunaan alat harus sesuai dengan petunjuk penggunaannya.
�� Penggunaan alat harus disesuaikan dengan daya atau kemampuan kerja alat tersebut.
�� Setiap pegawai yang menggunakan alat, telah memiliki keahlian dan ketrampilan dalam mengoperasikannya.
�� Setiap pegawai telah mengetahui kelebihan dan kelemahan dan bahaya yang mungkin timbul sebagai akibat dari alat kerja yang digunakan.
�� Pada waktu tertentu, alat-alat kerja perlu diservis, direparasi dan diganti komponen-komponennya.
�� Untuk lebih jelasnya berikut ini akan disajikan bagaimana memelihara dan peralatan sesuai dan penggunaan peralatan dengan persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja.
a. Mesin Fotokopi
Banyak kantor yang menempatkan mesin fotokopi dalam ruangan bersama-sama dengan penghuni atau pekerja lainnya. Padahal, dalam kegiatan perfotokopian itu, terpancar bahaya ultraviolet (UV) yang dapat menimbulkan terbentuknya ozon dalam ruangan. Seperti diketahui, ozon ini dapat menimbulkan iritasi mata, tenggorokan,dan lebih jauh lagi bila terhirup oleh manusia, ozon merupakan radikal bebas yang diduga berkaitan dengan penyakit kanker.Selain oleh mesin fotokopi, cahaya UV bisa juga diproduksi oleh monitor komputer. Limbah mesin fotokopi yang lain selain ozon adalah toner tinta dan serbuk halus kertasnya. Perhatikan apa yang dilakukan operator mesin fotokopi jika ada kertas yang tersangkut di tengah mesin dan pada saat membersihkan toner tintanya
b. Komputer
Bekerja di depan komputer dalam waktu lama sering membuat mata sakit, berair, sakit kepala, sampai badan pegal-pegal. Ada beberapa tips agar Anda nyaman bekerja di depan komputer.
Jarak minimum antara mata dan layar komputer adalah 45 cm, letakkan keyboard dalam posisi yang tepat,yang tidak membuat Anda membungkuk akibat lama memakai komputer.
Layar monitor sebaiknya sejajar dengan mata.Jangan menggunakan lampu tidur atau lampu baca untuk menyinari ruangan tempat kerja, Jika bekerja, gunakan lampu pijar yang dapat menerangi ruangan denganrata. Pasanglah fi lter di depan layar monitor untuk mencegah efek radiasi.
Sesekali, alihkan pandangan Anda dari layar monitor agar mata Anda tidak lelah.
Jika Anda sudah di depan komputer selama satu jam, istirahatlah 15 menit. Ini mencegah rasa pegal pada tubuh Anda.Posisikan kaki Anda senyaman mungkin, dengan meluruskan kaki agar
tidak pegal. Sesekali berdirilah untuk meluruskan punggung Anda. Duduklah dalam posisi tegak untuk menghindari tulang punggung Anda membungkuk.
c. Posisi lampu
Sesuai dengan namanya, fungsi lampu adalah untuk menerangi ruangan. Selain juga memberikan nuansa dekoratif. Untuk fungsi dekoratif, lantas perlu memilih lampu yang selaras dengan desain interior. Namun sebagai sarana penerang, lampu tentu saja harus terang. Apa pun bentuknya, pilihlah lampu yang cahayanya cukup terang untuk menerangi huruf-huruf tulisan. Selain itu juga tidak bikin mata silau dan pedih. Untuk ruang kerja, lazimnya digunakan lampu neon. Untuk mengurangi ketajaman sinar yang memedihkan mata, perlu lampu tambahan. Manfaat lainnya, cahaya lampu utama bisa tersebar. Sementara menempatkan lampu tak langsung yang tidak terlalu terang akan mengurangi ketegangan mata. Selain kriteria terang, tata letak lampu mesti diperhatikan. Lampu penerang sebuah gedung perkantoran biasanya sudah terpasang permanen. Kalau demikian adanya, yang mesti dilakukan ya mengatur posisi meja kerja. Posisi meja kerja mestinya tidak berada persis di bawah titik lampu. Kenapa? Karena sinar lampu dari atas langit-langit tepat di atas meja kerja menimbulkan bayangan pada halaman buku, koran atau majalah yang tengah dibaca. Jadi posisi lampu demikian tidak tepat untuk membaca. Posisi lampu hendaknya di belakang agak ke samping, untuk menghindari timbul bayangan pada halaman buku yang dibaca.
d. Posisi AC
Tata letak AC dalam ruang kantor umumnya sudah menetap. Kalau penghuni kantor ingin memilih posisi meja kerja yang tak langsung tersentor angin AC, harus mengatur diri. Apalagi bagi yang tak tahan AC, salah-salah justru bisa bikin badan meriang. Untuk kesehatan, usahakan suhu di dalam ruangan yang ditempati berkisar antara 22 - 25 derajat Celsius. Selain itu, ruangan pun memiliki kelambaban yang cukup ideal, di atas 40 persen.
e. Perabot kantor
Meski enak digunakan, konsep ergonomik untuk mebel kantor pun disesuaikan dengan suasana kerja yang memang harus dilakukan orang di tempat itu Kursi untuk bekerja dengan konsep ergonomik adalah bentuk mebel yang bisa menopang punggung, pantat, sampai kemiringan tubuh
sedemikian rupa setiap kali tubuh kita perlu bergerak untuk menunjang kerja. Konsep ergonomik tak hanya digunakan untuk kursi, tetapi juga pada meja. Belakangan ini semakin berkembang bentuk meja kerja yang tidak sekadar empat persegi panjang, namun dihitung benar kemiringan
dan kebulatannya sesuai dengan kebutuhan pekerjaan pemakainya. Pemilihan interior kantor yang tidak mempertimbangkan konsep ergonomik, bisa mempengaruhi produktivitas kerja seseorang. Alasannya, interior tanpa konsep ergonomik akan membuat pemakainya merasa cepat lelah. Oleh karena itulah penting dipertimbangkan gerakan apa saja yang banyak dilakukan karyawan, sebelum memutuskan memilih interior ruang kerjanya.
5. Mempertimbangkan penampilan pribadi terhadap kemungkinan timbulnya permasalahan di lingkungan kerja
a. Pentingnya kesehatan pribadi
Kesehatan yang cukup baik akan mempengaruhi, akan membangkitkan gairah atau semangat kerja yang tinggi. Segi-segi yang perlu diperhatikan dalam hubungannya dengan kesehatan
adalah :
�� Istirahat yang cukup
�� Gizi yang cukup
�� Energi yang cukup
�� Tidak mudah sakit
�� Tidak gugup
Dapat dikatakan bahwa setiap kantor atau setiap perusahaan yang mengadakan requitment pegawai syarat kesehatan menjadi salah satu yang harus dipenuhi oleh setiap calon pegawai/pelamar. Bahkan untuk kantor-kantor atau perusahaan-perusahaan yang cukup besar dan maju, pada saat-saat tertentu diadakan pemeriksaan terhadap para pegawainya. Pemeriksaan yang demikian dilakukan secara continue misalnya sekali setahun. Apalagi dalam dunis business masalah ksehatan para pegawai memegang peranan penting terhadap produktivitas. Banyak pegawai yang sakit selain menambah biaya pengobatan, besar pengaruhnya terhadap produktivitas, baik kualitas maupun kuantitas.
C. Menjaga standar penampilan pribadi sesuai dengan prosedur keamanan
keselamatan dan kesehatan kerja.
Kantor adalah suatu tempat dimana semua pegawai atau karyawan dengan segala jenjang jabatan bertemu, bergaul dan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tugas dan wewenangnya.
Dalam bergaul dengan banyak orang, kita pasti akan menemukan orang-orang dengan berbagai macam karakter dan kepribadian. Bisa saja, orang terlihat menarik tapi semakin lama berteman, ternyata orang tersebut memiliki perilaku buruk. Dalam kondisi seperti itu, yang harus kita lakukan adalah pandai-pandai mengontrol diri dan tidak ikut terbawa pengaruh buruk. Biasanya, jika kita sudah memiliki cara pandang positif, kita juga mampu mengontrol diri. Mampu menjaga jarak, tetap saling menyapa, tapi tidak antipati dan memusuhi. Sehingga, di mata orang tersebut, kita
tetap memiliki pribadi yang menarik. Memiliki pribadi yang menarik, dalam pekerjaan juga harus selalu ditunjukkan selalu ringan tangan membantu teman untuk menyelesaikan pekerjaannya
meskipun itu bukan tugas kita. Miliki pula sense of responsibility yang tinggi.
Faktor-faktor yang menunjang kepribadian positif adalah
1. Behaviour, yaitu tingkah laku/ tindakan seseorang yang dapat dilihat dan diamati oleh orang lain, didasari atas etiket dan sopan santun.
2. Brain, yaitu cara pandang/ cara berpikir seseorang terhadap sesuatu hal yang mempengaruhi sikap dan wawasan, berdasarkan intelegensi.
3. Sense of spiritual, yaitu rasa keagamaan yang menyangkut rasa keimanan/kepercayaan serta rasa kepedulian sosial seseorang yang dipengaruhi oleh kecerdasan spiritual.
Dengan memandang segala sesuatu secara positif maka akan terbiasa untuk melakukan pelayanan secara tulus dan iklas, yang pada akhirnya mengkondisikan diri pada Pelayanan prima sebagai suatu bentuk pelayanan yang bertujuan untuk memuaskan masyarakat. Tidak ada lagi rasa curiga maupun rasa was-was diantara dua pihak. Melalui semangat keterbukaan dan tranparansi pada akhirnya akan mendorong tercapainya good governance yang menjadi cita-cita bangsa negara.Manajemen perubahan adalah rangkaian selanjutnya, diharapkan perubahanperubahan yang terjadi sebagai hasil pembelajaran dan pencerahan dapat dikelola
sedemikian rupa demi kemaslahatan bersama. Yang baik tetap dipertahankan sedang yang tidak baik harus ditinggalkan.
Cara Berpakaian yang sesuai dengan lingkungan kerja
Seseorang mengenal orang lain untuk yang pertama kali biasanya melalui
pandangan mata. Beberapa lama kemudian lebih mengenal lagi melalui suara,
gerakan, intelektualnya dan selanjutnya kecerdasan emosionalnya. Melalui
pandangan mata seseorang sudah dapat memberi kesimpulan awal terutama dari
cara berpakaiannya bahwa orang tersebut tampak santai, rapi, modis, patuh pada
ajaran agama, atletis dan masih banyak kesan yang lain pegawai atau karyawan
di kantor hendaknya tampil rapi, berwibawa, tegas.
Oleh karenanya seorang pegawai atau karyawan sedikitnya memiliki ciri penampilan
sebagai berikut:
�� Corak dan warna pakaian sesuai dengan umur dan warna kulit;
�� Model sesuai dengan usia;
�� Waktu pemakaian sesuai;
�� Tempat sesuai;
�� Kombinasi pakaian secara keseluruhan dan pelengkap pakaiannya sesuai
Selain dari sudut penampilan;
a. Pakaian Sehat dan Aman
Agar penampilan terlihat rapi dan baik kita memerlukan pakaian yang baik
dalam arti enak dipandang serta sesuai dengan ukuran badan. Jika pakaian
kurang baik dan tidak nyaman di badan bisa menimbulkan berbagai penyakit.
Antara lain timbul biang keringat, merupakan sekumpulan bintik di kulit yang
terasa gatal di badan. Penyakit ini biasanya timbul pada musim kemarau, saat
aktivitas meningkat.
60
Proses mencuci pakaian pun harus diperhatikan, jangan sampai detergen
masih melekat pada pakaian, proses pencucian, pembilasan, hingga
pengeringan pakaian sangat penting untuk diperhatikan demi kesehatan.
Tak ada artinya pakaian dengan desain mahal dan bagus, jika tak nyaman
dipakai. Karenanya proses pembilasan harus lebih diperhatikan, karena jika
sisa detergen masih menempel pada pakaian bisa mengakibatkan penyakit
kulit dan iritasi.
Penggunaan pelembut sangat disarankan, tetapi jangan sampai berlebihan,
sesuaikan dengan kebutuhan. Pelembut pakaian harus mengandung bahan
yang bisa melindungi serat pakaian agar lembut serta menimbulkan aroma
yang harum pada pakaiannya.
b. Agar Pakaian Tak Menimbulkan Bau
Pakaian yang disimpan terlalu lama akan menimbulkan bau yang kurang
sedap. Jika aroma bau sudah muncul, cara yang baik dan cepat agar baunya
hilang adalah segera mencucinya dengan baik.
Penyebab bau pada pakaian yang disimpan terlalu lama adalah jamur.
“Makhluk” ini sangat mudah tumbuh di tempat yang lembab. Apalagi jika pakaian
diletakkan atau disimpan di tempat yang jarang dibuka, dan dibersihkan. Apalagi
bahan tempat menyimpan pakaian terbuat dari plastik.
Hal yang harus diperhatikan agar pakaian yang disimpan terhindar dari bau
adalah:
�� Cuci bersih pakaian. Pastikan pakaian dalam keadaan kering sebelum
disimpan. Simpan pakaian di tempat yang perpori-pori, misalnya lemari
pakaian yang terbuat dari kayu. Jika akan dibungkus plastik, berikan poripori
pada plastiknya agar udara dapat masuk, sehingga pakaian tidak akan
lembab.
�� Jangan menyimpan pakaian bekas dipakai. Noda dan keringat pada
pakaian bisa mengundang ngengat baju atau mikroorganisme lainnya
sehingga pakaian akan berlubang. Letakkan pakaian di tempat yang
mempunyai tingkat kelembaban yang rendah.
c. Penampilan yang mendukung kesehatan dan keselamatan di tempat
kerja
Seperti telah diuraikan dimuka bahwa di tempat kerja sering terjadi
kecelakaan kerja baik yang disengaja maupun tidak disengaja oleh pegawai.
61
Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian
materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses
produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan
berdampak pada masyarakat luas.
Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran
pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak
pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat
pengaman walaupun sudah tersedia.
Pola kerja yang berubah-ubah dapat pula menyebabkan kelelahan yang
meningkat, akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Faktor
lain yang turut memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan
sosial bagi pekerja yang masih relatif rendah, yang berdampak pekerja terpaksa
melakukan kerja tambahan secara berlebihan. Beban psikis ini dalam jangka
waktu lama dapat menimbulkan stres.
Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi
kesehatan kerja dapat menimbulkan Kecelakaan Kerja (Occupational Accident),
Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja (Occupational
Disease & Work Related Diseases).
Selain itu cara berpakaian yang baik harus diperhatikan agar tidak
mengganggu cara kerja dan gerakan ditempat kerja. Aturan mengenai cara
berpakaian yang sesuai dengan tempat kerja dan menunjang keselamatan
kerja antara lain:
1. Gunakan uniform atau seragam sesuai ketentuan perusahaan
Jika tidak ada seragam kenakan pakaian yang sopan dan sesuai dengan
jenis pekerjaan,
2. Kenakan alat pelindung kerja sesuai dengan jenis pekerjaan, misalnya
masker, helmet, sepatu berhak pendek.
d. Penyebab kecelakaan kerja dapat dibagi dalam kelompok
1. Kondisi berbahaya (unsafe condition), yaitu yang tidak aman dari:
- Mesin, peralatan, bahan dan lain-lain
- Lingkungan kerja
- Proses kerja
- Sifat pekerjaan
- Cara kerja
62
2. Perbuatan berbahaya (unsafe act), yaitu perbuatan berbahaya dari
manusia, yang dapat terjadi antara lain karena:
- Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana
- Cacat tubuh yang tidak kentara (bodily defect)
- Keletihanan dan kelemahan daya tahan tubuh.
- Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik.
3. Pengaruh peralatan dan furniture kantor, antara lain karena:
- Posisi tubuh (ergonomi) yang salah ketika melakukan pekerjaan
- Gerakan berulang (repetitive motion).
- Pencahayaan yang terlalu terang/gelap.
- Mouse dan keyboard yang sulit dijangkau tangan.
4. Kabel listrik, telepon, internet yang terjuntai ke lantai.
5. AC yang terlalu dingin atau malah tidak berfungsi (panas).
6. Alat-alat listrik yang tidak berfungsi sempurna.
7. Furnitur kantor yang menyusahkan pekerjaan.
e. Beberapa kecelakaan yang banyak terjadi di tempat kerja
1 Terpeleset
Biasanya karena lantai licin. Terpeleset dan terjatuh adalah bentuk
kecelakaan kerja yang dapat terjadi di tempat kerja
Akibat:
• Ringan memar
• Berat: fraktura, dislokasi, memar otak, dll.
Pencegahan:
• Pakai sepatu anti slip
• Jangan pakai sepatu dengan hak tinggi, atau tali sepatu longgar
• Hati-hati bila berjalan pada lantai yang sedang dipel (basah dan licin)
atau tidak rata konstruksinya.
• Pemeliharaan lantai dan tangga
2. Mengangkat beban
Mengangkat beban merupakan pekerjaan yang cukup berat, terutama
bila mengabaikan kaidah ergonomi.
63
Akibat: cedera pada punggung.
Pencegahan:
Beban jangan terlalu berat ,Jangan berdiri terlalu jauh dari beban.
Jangan mengangat beban dengan posisi membungkuk tapi
pergunakanlah tungkai bawah sambil berjongkok. Pakaian jangan
terlalu ketat sehingga pergerakan terhambat.
3. Risiko terjadi kebakaran
sumber: hubungan pendek arus listrik; bahan lain mungkin mudah
menyala
Akibat:
�� Timbulnya kebakaran dengan akibat luka bakar dari ringan sampai
berat bahkan kematian.
�� Timbul keracunan akibat kurang hati-hati.
64
Pencegahan:
- Konstruksi bangunan yang tahan api
- Sistem penyimpanan yang baik terhadap bahan-bahan yang
mudah terbakar
- Pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya kebakaran
- Merapihkan sambungan kabel listrik
Rangkuman
1 Pengertian Pelayanan prima (Excellent service) adalah suatu pelayanan terbaik
dalam memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan. Artinya pelayanan yang
memenuhi standar kualitas. Pelayanan yang memenuhi standar kualitas adalah
suatu pelayanan yang sesuai dengan harapan dan kepuasan pelanggan/
masyarakat.
2 Menurut penelitian kepuasan pelanggan dapat dianggap sebagai investasi usaha
atau bisnis. Pelanggan bagi perusahaan adalah aset, karena itu peningkatan
kualitas pelayanan diupayakan terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan dan
harapan pelanggan/kolega.
3 Hubungan interpersonal dengan, kolega, kelompok, maupun orang lain dapat
merupakan sumber terjadinya konfl ik, oleh sebab itu harus mengetahui dan
memahami manajemen konfl ik. Penyebab konfl ik meliputi: ketidakjelasan uraian
tugas, gangguan komunikasi, tekanan waktu, standar, kebijakan yang tidak jelas,
perbedaan status, dan harapan yang tidak tercapai. Konfl ik dapat dicegah atau
diatur dengan menerapkan disiplin, komunikasi efektif, dan saling pengertian antara
sesama rekan kerja.
Latihan
1. Buatlah kesimpulan tentang harapan dan kebutuhan pelanggan.
2. Diskusikan dengan kelompokmu.
3. Jelaskan bagaimana cara memelihara dan menggunakan peralatan sesuai dengan
persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja.
4. Berikan contoh bagaimana penerapan etika di tempat kerja.

Lampiran : 1.

TES TERTULIS (KOGNITIF)

Jawablah pertanyaan berikut dengan baik dan benar  :

1.
!


Kunci Jawaban :
1.  

RUBRIK PENILAIAN
No
Uraian
Nilai Skor
Ket
1
Jika siswa menjawab 4  benar
20

2
Jika siswa menjawab 3  benar
15

3
Jika siswa menjawab 2  benar
10

4
Jika siswa menjawab 1  benar
5

5
Jika siswa tidak menjawab atau tidak ada jawaban yang benar
0

Perhitungan Nilai Kognitif :
Nilai Kognitif =  Jumlah Nilai Skor/60 X  100
Perhitungan  Nilai Sikap   Format Penilaian Sikap
c. Perhitungan  Nilai Sikap   Format Penilaian Sikap
No.
(n)
Aspek Sikap /ranah Non-instruksional/ (Attitude)
Skor Perolehan
Believe (B)
(Preferensi oleh Peserta didik ybs.)
Evaluation (E)
(Oleh Guru/ mentor)
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1.
Kedisiplinan










2.
Kejujuran










3.
Kerja sama










4.
Mengakses dan mengorganisasi informasi










5
Tanggung jawab










6
Memecahkan masalah










7
Kemandirian










8
Ketekunan













å (Bn + En )                             
Nilai Attitude (NAt) =                           X  Smax                               
                                          (5 + 5) x nmax                                                          
Keterangan:
Ä  nmax = banyaknya aspek sikap (dalam contoh diatas nmax = 8);
Ä  Smax = Skor maksimum; 10,00; 100; atau sesuai ketetapan tertentu.
Ä  Bn dan En : skor B dan E pada aspek sikap ke n;
Ä  Pesrta didik dapat mengisi skor diri sendiri terlebih dahulu, kemudian diserahkan kepada guru/mentor untuk diisi dan diolah nilai NAt
No
Komponen
Deskripsi Skor Perolehan
5
4
3
2
1
1
Disiplin
Mentaati semua peraturan kerja secara konsisten tanpa instruksi dan pengawasan guru
Mentaati semua peraturan kerja secara konsisten dengan sedikit pengawasan dari guru
Mentaati semua peraturan kerja dengan pengawasan guru
Peraturan kerja kadang-kadang dilanggar meski- pun diawasi
Peraturan kerja sering dilanggar meskipun diawasi
2
Kejujuran
Selalu jujur
Jujur selama diawasi23
Kadang-kadang jujur
Kadang-kadang tidak jujur walaupun diawasi
Sering tidak jujur
3
Kerja sama
Dapat bekerjasama dengan semua pihak (sesama teman maupun guru, pegawai)
Bisa  bekerjasama dengan group tertentu tanpa pengawasan guru
Dapat bekerjasama dalam group kerja selama diawasi guru
Hanya  dapat bekerjasama dengan guru
Tidak  dapat bekerjasama walaupun dalam grup kerja
4
Mengakses dan meng-organisasi informasi
Dapat mengskses dan memanfaatkan informasi terbaru
Dapat mengakses informai tapi kurang memanfaatkannya
Kadang-kadang mencari informasi baru
Dapat memanfaatkan informasi baru tetapi terlambat
Kurang mampu mengakses informasi baru
5
Tanggung jawab
Dapat bertanggung jawab dalam segala kewajiban
Bertanggungjawab tetapi hanya sebagian saja
Kadang kadang bertanggung- jawab jika diawasi
Bertanggungjawab selama menguntungkan dan diawasi
Kurang bertanggung- jawab pada kewajibannya
6
Memecahkan masalah
Dapat memecahkan masalah dengan baik tanpa bimbingan
Dapat memecahkan masalah dengan baik atas bimbingan
Dapat memecahkan sebagian besar masalah tanpa bimbingan
Dapat memecahkan sebagian masalah walau tanpa bimbingan
Semua masalah diselesaikan selalu dengan bantuan penuh
7
Kemandirian
Dapat  belajar sendiri tanpa pengawasan guru
Dapat belajar sendiri dengan pengawasan guru
Kadang kadang dapat belajar mandiri
Kadang kadang mandiri jika daiawasi
Kurang mampu bekerja mandiri
8
Ketekunan
Tekun tanpa harus dibimbing
Tekun selama dibimbing
Kadang kadang tekun
Kadang kadang kurang tekun walau dibimbing
Kurang tekun walau dibimbing

Nilai Akhir = (60% x Nilai Kognitif)+ (40 % x Nilai sikap)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar